Dengan hati yang rontok, perih, tercabik, Hasna memutuskan pulang, membodoh-bodohkan dirinya. Mengasihani dirinya. Langkahnya ia cepatkan, sangat cepat, meski serasa ia lumpuh, lemah, kesakitan. Luka-luka. Entah bagaimana menggambarkan keadaannya kala itu.
***
Lili menyambutnya di bandara. Memeluk sahabat dengan hati yang terluka, sangat dan dalam. Isak tangis Hasna menjadi-jadi. Pedih mendengarnya.